Pembagian Utang Piutang

dinar Jenis Pertama: Membeli barang secara kredit

Seseorang ingin membeli barang, akan tetapi ia tidak mempunyai sesuatu untuk membayar harga barang tersebut secara kontan. Lalu ia membeli barang tersebut dengan jangka waktu tertentu (kredit) dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga barang tunai barang tersebut. Utang piutang jenisi ni dibolehkan.

Misal: Seseorang membeli motor seharga 10.000 secara kredit dengan tempo satu tahun, baik untuk dikendaran sendiri atau disewakan , padahal jika motor itu dibeli secara tunai harganya hanya 9.000.

Utang piutang ini, termasuk salah satu jenis muamalah yang dimaksudkan dalam firmal Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah secara tidak tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya” (Al-Baqarah: 282)

Jenis Kedua: Membeli barang dagangan secara kredit

Seseorang membeli barang dagangan secara kredit, dengan tujuan memperdagangkannya.

Misal: seseorang membeli gandum secar kredit dengan harga yang lebih tinggi dari harga kontanya, untuk diperdagangkan kembali di negara lain atau untuk menunggu kenaikan harganya di pasaran, dan sebagainya. Ini dibolehkan, karena utang-piutang jenis ini juga termasuk katergori muamalah yang dimaksudkan pada ayat sebelumnya.

Berkenaan dengan kedua jenis utang-piutang ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat, bahawa keduanya diperbolehkan berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ (Ibnu Qasim mengemukakan pendapat ini, dalam Majmu’u Al-Fatawa, hal: 499, jilid 29)

Jenis Ketiga : Jual-Beli Salam

Seseorang membutuhkan uang, kemudian ia meminjamkannya kepada seseorang dan akan membayarnya (melunasinya) dengan barang (selain uang) yang menjadi miliknya.

Misal: seseorang berkata kepada yang lainnya, “Pinjamkan kepadaku 5.000 riyal, aku akan membayarkan dengan 20 sha’ gandum, yang akan aku serahkan kepadamu satu tahun yang akan datang.

Jenis utang piutang ini juga diperbolehkan. Dan inilah yang dimaksud dengan jual beli secara “Salam” yang diterangkan dalam hadits shahih dalam kitab Ash-Shahihain dari Ibnu Abbas yang berbunyi:

“Nabi SAW datang ke Madinah, sedangkan orang-orang Madinah biasa memberikan pinjaman (uang) dengan pembayran berupa buah-buahan dalam jangka waktu satu tahun atau dua tahun. Maka, Nabi SAW bersabda, ‘Barangsiapa yang memberikan pinjaman, hendaklah memberikan pinjaman dengan penukaran yang sebanding dan dalam takaran atau timbangan yang diketahui, dalam jangka waktu tertentu pula.”

Jenis Keempat: ‘Inah

Membeli barang kepada seseorang secara kredit, lalu menjual barang kepada si pemilik barang dengan harga yang lebih murah dan di bayar secara tunai. Utang Piutang ini termasuk dalam kategori jual beli ‘Inah (salah satu bentuk mua’amalah riba). Utang piutang ini diharamkan., berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Jika orang-orang sudah sama bakhil untuk mengeluarkan dinar dan dirham, mereka juga berjual beli dengan sistem ‘Inah, mengikuti ekor sapi, dan meninggalkan jihat fi sabilillah,  niscaya Allah akan menurunkan kepada mereka bencana yang tidak akan diangkat-Nya, kecuali bila mereka kembali kepada agama mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Jenis Kelima : Tawarruq

Membli barang kepada seseorang secara kredit, lalu menjualnya secara kontan kepada orang lain, bukan kepada orang yang menjual barang tersebut. Jual beli semacam ini disebut dengan “tawarruq“.

Para Ulama berselisih pendapat  mengenai ada boleh dan tidaknya jual beli dengan kategori  tawarruq.

Menghalalkan sesuatu yang diharamkan dengan menggunakan sarana-sarana yang tidak bisa menghilangkan keburukannya tetap tidak ada artinya, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sesungguhnya segala amalan itu tergantung dengan niat, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Melihat kebutuhan masyarakat di zaman sekarang yang begitu mendesak dan sedikitnya orang yang mau memberikan pinjaman, maka seyogyanya kita memilih pendapat yang membolehkan tawarruq, dengan beberapa syarat:

  1. Hendaknya si peminjam benar-benar membutuhkan uang, jika ia tidak benar-benar membutuhkan, makatidak diperbolehkan. Sebagaimana ketika ia menggunakan cara seperti ini untuk mengutangi orang lain.
  2. Hendaklah si peminjam tidak mendapati lagi cara lain yang mubah untuk memperoleh uang, seperti meminjam atau salam. Jika masia ada kemungkinan untuk memperoleh uang tersebut melalui cara selain ini, maka cara ini tidak diperbolehkan, karena cara ini tidak dibutuhkan lagi.
  3. Jangan sampai akadnya mengandung sesuatu yang menyerupai bentuk (shighah) ribah. Misal, salah satu pihak mengatakan “Aku jual barang ini seharga 10.000, tapi kamu harus membayar kepada 11.000 ” atau yang sejenisnya.
  4. Hendaknya peminjam tidak menjual barang dagangan itu, sebelum menerima barang tersebut secara langsung dan memindahkannya (dari tempat penjual), karena Nabi Muhammad SAW melarang jual beli barang dagangan sebelum para pedagang membawa barang dagangan itu ke rumah mereka (memilikinya secara penuh).

Jika keempat syarat di atas terpenuhi, maka pendapat yang memperbolehkan tawarruq baru dibenarkan.

Jenis Keenam:  Komisi Jual Beli

Peminjam sepakat dengan pemberi pinjaman untuk meminjamkan uang sebesar 10.000 dengan pembayaran 11.000, bisa kurang atau lebih dari itu. Setelah itu peminjam dan pemberi pinjaman pergi ketoko lantas pemberi pinjaman membeli suatu barang yang harganya sesuai dengan nominal uang yang diminta si peminjam, selanjutnya ia menjualnya kepada peminjam, kemudian peminjam menjualnya kepada pemilik toko setelah memotong sebagian harga yang biasa mereka sebut dengan istilah komisi.

Transaksi semacam ini tidak diragukan lagi adalah haram.

Syaikhul Islam telah menyatakan keharamannya dalam beberapa tempat. tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini.

Jenis Ketujuh: Jual beli ribah

Seseorang mempunyai utang kepada orang lain berupa uang dalam jangka waktu tertentu, sampai jatuh tempoh si peminjam tidak mempunyai uang untuk mengembalikannya, kemudian si peminjam meminjam uang lagi kepada pemberi pinjaman pertama tadi untuk melunasi utang pertamanya.

Utang Piutang jenis ini termasuk riba, bahkan ini adalah muamalah yang dimaksudkan Allah SWT dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. dan peliharalah dirimu dari api negakah, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (‘Ali ‘Imran: 130-32)

Jenis utang-piutang ini adalah salah satu perilaku masyarakat jahiliyyah.

Hendaknya bagi pemilik piutang, ketika pembayran utang telah jatuh tempo sedangkan pengutang dalam keadaan kesulitan, maka wajib baginya untuk memberikan kelonggaran tempo pembayaran. Sebagaiman firman Allah SWT:

“Dan jika (orang yang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. (Al-Bawarah: 280)

Namun jika si pemilik utang sudah lapang, maka si pemilik piutang berhak memaksanya melakukan pelunasan, karena ketika itu, haram baginya pengutang untuk mengulur-ulur pelunasan kepada pemilik piutang berdasarkan Sabda Nabi Muhammad SAW:

“Penundaan (pembayaran utang) pada pengutang yang berada dalam keadaan kaya (lapang) adalah sebua kezaliman.” (HR. Abud Dawud-Hasan)

 

Jenis Kedelapan: Memindah tangankan utang.

Seseorang yang mempunyai piutang (pemberi hutang) ketika pembayaran sudah jatu tempo dan orang yang mempunyai utang tersebut belum sanggup melunasi hutangnya lalu si pemberi hutang menyarankan kepada  yang mempunyai utang untuk berhutang ke orang lain dimana si pemberi hutang yang kedua dengan di pemberi hutang pertama sepakat  / sama-sama mengetahui akan meminjamkan uang kepada orang yang mempunyai utang untuk di bayarkan ke pemberi utang pertama.

Ini merupakan suatu muslihat untuk memindah tangankan utang, dengan perantara pihak ketiga, ini diharamkan.

Sumber:
Buku “Jangan Gampang Berutang”, Aqwam, September 2006
About these ads

About Juansyah

Bekerja dan Berdo'a adalah modal keberhasilan.

Posted on 6 Februari 2013, in Ekonomi, Syari'ah and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. I simply want to say I’m new to weblog and actually savored your blog. More than likely I’m planning to bookmark your blog . You really come with impressive writings. Bless you for revealing your webpage.

  2. I just want to tell you that I am beginner to blogging and certainly loved this web site. Likely I’m likely to bookmark your website . You surely have great articles and reviews. Kudos for sharing with us your website.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 277 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: