Kapal yang Berlayar di Daratan
Ini bukan kisah bohong, tapi kejadian nyata. Kisahnya, panglima Muhammad al-Fatih bertekad melakukan ekspansi ke Konstantinopel (yang sekarnag berubah nama nejadi Aljazair-penj.) Akan tetapi dia menghadapi masalah besar ketika ingin melayarkan kapal-kapal perangnya di daerah posfor ke Qarn adz-Dzahabi. Sebab, jika panglima al-Fatih berusaha melayarkan kapal-kapalnya, pasti akan segera di gempur pasukan Eropa yang siaga di pinggir pantai.
Karena itu, satu-satunya cara adalah membuat jalan dari atah pegunungan. Dia memasang papan-papan kayu, lalu melumurinya dengan minyak dan lemak kemudian menarik kapal-kapal itu dari Posfor ke Qarn adz-Dzahabi melintasi pegunungan sejauh tiga mil.
Malam itu juga, Muhammad al-Fatih mulai mempersiapkan jalan, memasang papan-papan kayu, dan menarik tujuh puluh kapal perang sejauh tiga mil dalam satu malam.
Ketika pagi menjelang, pihak musuh terkagum-kagum menyaksikan langkah yang sangat kreatif itu, yang belum pernah ada bandingannya dalam sejarah.
Ide cemerlang tersebut merupakan salah satu faktor utama hingga kostantinopel yang memiliki pertahanan tangguh bisa ditaklukkan.
Coba renungkan, seandainya panglima Muhammad al-Fatih putus asa dan berkemauan lemah, pasti dia tidak akan memperoleh ide cemerlang tersebut. Akan tetapi, dia percaya diri dan mencampakkan rasa putus asa, hinggga mampu melakukan apa yang belum pernah terpikirkan manusia.
Sumber: Buku [OPTIMISLAH ada memiliki semuanya / Maghfirah Pustaka]
Posted on 14 April 2011, in Religi, Sufi and tagged Percaya Diri, Putus Asa. Bookmark the permalink. Tinggalkan sebuah Komentar.
juansyah.wordpress.com




Tinggalkan sebuah Komentar
Komentar (1)